www.AlvinAdam.com


Berita 24 Kalimantan Timur

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Pilgub Kaltim, Otak-atik Wilayah Kekuasaan dan Calon Pasangan (3)

Posted by On 15.07

Pilgub Kaltim, Otak-atik Wilayah Kekuasaan dan Calon Pasangan (3)

Pilgub Kaltim, Otak-atik Wilayah Kekuasaan dan Calon Pasangan (3) - image  on https://www.cakrawala.co
Muhammad Husni Fahruddin Ayub (dok)

Oleh Muhammad Husni Fahruddin Al Ayub, Direktur Youth Institute.
Samarinda, 25 Desember 2017.

Tahapan Pemilihan Umum Kepala Daerah (pemilukada) Provinsi Kalimantan Timur mendekati titik krusial sebab, beberapa hari lagi pendaftaran pasangan Calon Gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) akan dibuka, tepatnya tanggal 8 sampai 10 Januari 2018.

Partai Golongan Karya (Golkar) Kaltim, dengan perolehan suara di parlemen sebanyak 13 kursi (23,64 persen) dari total kursi DPRD Kaltim pada pemilihan legislatif (Pileg) 2014 lalu.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) mengantongi 18,18 persen suara pada Pileg 2014 lalu sehingga memiliki 10 kursi wakil rakyat di DPRD Kaltim.

Selanjutnya, disusul Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dengan 6 kursi (10,91 persen). Kemudian, Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) memiliki kursi yang sama yakni sebanyak 4 kursi atau sebesar 7,27 persen. Partai Nasional Demokrat (NasDem) dengan jumlah kursi sebanyak 2 kursi atau 3,64 persen (ada perubahan jumlah kursi semenjak munculnya Kalimantan Utara).

Menurut Undang-Undang Nomor 8 tahun 2015 tentang Pemilihan Gubernur, bupati dan walikota. Pasal 39 menyebutkan, peserta pemilihan adalah calon gubernur dan calon wakil gubernur, pasangan calon bupati dan wakil bupati serta pasangan calon walikota dan wakil walikota yang diusulkan oleh partai politik atau g abungan partai politik; dan/atau pasangan calon perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang. Untuk
Kontestasi tahun 2018 di Kalimantan Timur, tidak ada calon pasangan dari jalur perseorangan atau independen.

Selanjutnya Pasal 40 menyebutkan Partai politik atau gabungan partai politik dapat mendaftarkan pasangan calon jika telah memenuhi perolehan persyaratan pencalonan paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi DPRD atau 25 persen dari akumulasi perolehan suara sah dari pemilihan umum anggota DPRD di daerah yang bersangkutan.

Berdasarkan aturan perundangan tersebut, maka jelas tergambar bahwa hanya Golkar satu-satunya yang bisa mengusung pasangan calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) di Provinsi Kalimantan Timur, karena ambang batas partai politik yang boleh mengusung, ketika memiliki 11 kursi di DPRD Kaltim, dan hanya Golkar dengan jumlah kursi di DPRD sebanyak 13 kursi yang otomatis bisa mengusung tanpa berkoalisi dengan partai lainnya.

OTAK-ATIK WILAYAH KEKUASAAN

Berhitung wilayah administratif yang nantinya diharapkan dapat menjadi acuan analisis dan mapping tingkat keterpilihan setiap cagub maka dimulai dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada Pemilukada serentak tahun 2015, yakni 2.566.522 pemilih (dikumpulkan dari berbagai sumber)

Dengan rincian, Kota Samarinda dengan Pemilih terbesar sebanyak 588.109 pemilih (23,91 persen) dengan Walikota Syahrie Jaang sekaligus Ketua Demokrat Kaltim yang kemudian di berbagai survei saat ini memiliki peringkat tertinggi di bandingkan kandidat lainnya, banyak faktor yang mengindikasikan terjadinya fenomena tersebut salah satunya karena Sahrie Jaang sebagai walikota di daerah pemilih terbesar se Kaltim dan ibukota provinsi yang secara otomatis akan lebih banyak di kenal dibandingkan menjadi kepala daerah di wilayah lainnya.

Sebaiknya, Syahrie Jaang harus sangat berhati-hati, ketika permasalahan kota samarinda yang tidak pernah tuntas dalam periode kep emimpinannya selama 4 periode (kurang lebih 18 tahun), ini bisa menjadi turbulensi politik atau anti klimaks politik bagi masyarakat samarinda untuk kembali memilih.

Samarinda memiliki tokoh-tokoh yang berpotensi meraup suara tinggi dan bisa memecah suara. Farid Wadjdy sebagai mantan Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama (Kakanwil Depag) Provinsi Kaltim, mantan Wakil Gubernur Kaltim, tokoh agama, dekat dengan ulama dan kalangan santri, menjadikan sosok ini sangat berpengaruh di Samarinda.

Tokoh lainnya adalah Nusyirwan Ismail, Wakil Walikota Samarinda, Dewan Pertimbangan Nasdem, sebelumnya juga birokrat di Pemprov Kaltim sehingga sangat di kenal masyarakat Samarinda. Harbiansyah sebagai Ketua Nasdem Kaltim juga dikenal luas. Kalaupun mereka ini tidak bisa menjadi cagub dan cawagub, dukungan para tokoh kepada salah satu cagub, akan
sangat berpengaruh nyata bagi pilihan masyarakat Samarinda.

Baca Juga Mahasiswa Fakultas Ekonomi Janabadra Bantu Korban Banjir Gun ungkidul dan Kulonprogo

Kabupaten Kukar di urutan kedua, sebanyak 533.028 pemilih (20,77 persen), pasca ditahannya Rita Widyasari, otomatis daerah ini menjadi swing voters sehingga menjadi rebutan cagub lainnya untuk meminta dukungan Rita Widyasari baik secara pribadi maupun melalui DPD Golkar Kab. Kutai Kartanegara yang telah sukses dipimpinnya dengan berhasil meraih 19 kursi di DPRD Kutai Kartanegara dan menjadi Bupati terpilih melalui jalur perseorangan dengan suara terbesar se Indonesia (baca https://www.cakrawala.co/2017/12/18/kontestasi-pilgub-kaltim-bagian-2/)

Dominasi Golkar tidak bisa terbendung di Kukar, pengaruh sosok Almarhum Syaukani dan anaknya Rita Widyasari (RW) serta kekuatan sistem politiknya, membekas sekali di kalangan masyarakat Kukar, sesuatu yang unik karena indikatornya bisa di perdebatkan, sehingga sangat sulit tokoh-tokoh di Kukar apalagi dari luar Kukar untuk mematahkan kekuatan ini.

Kota Balikpapan di urutan ketiga, sebanyak 461.422 pemili h (17,99 persen), dengan walikota Rizal Effendi juga terlihat berniat mencalonkan diri sebagai cawagub Kaltim. Secara survei masih di bawah 5 persen, namun bila melihat wilayah administratif Kota Balikpapan yang merupakan kota terbesar ketiga ditambah latar belakangnya sebagai pemegang media massa terbesar di kaltim, ini menjadi magnet kuat bagi Syahrie Jaang untuk meminangnya sebagai pasangan di Pemilukada nantinya. Pasangan ini kemungkinan akan menggunakan perahu Demokrat, PKB dan PPP sehingga terakumulasi 12 kursi.

Balikpapan sebagai kota modern, masyarakat yang heterogen dan rerata berpendidikan baik, sehingga masyarakatnya tidak tertarik dengan tampilan figur tertentu, namun lebih kepada prestasi, program dan misi cagub yang akan di pilih, disini banyak sekali tokoh berkualitas dan teruji kepemimpinannya yang bisa memecahkan suara.

Salah satunya Imdad Hamid mantan walikota yang sangat dibanggakan masyarakat Balikpapan, zona bebas tambang adalah kebijakan terbaik y ang di telurkannya. Selain itu ada nama, Heru Bambang mantan wakil walikota balikpapan, Ketua DPRD Kota balikapan Abdulloh dan Ketua DPD Golkar Kota Balikpapan Rahmat Mas’ud yang juga Wakil Walikota Balikpapan berpotensi menghasilkan suara yang signifikan bagi Golkar.

Kabupaten Kutai Timur (Kutim) di urutan ke empat, sebanyak 262.559 pemilih (10,23 persen). Bupati Kutim Ismunandar sebelumnya adalah pejabat birokrat, namun wakilnya Kasmidi Bulang adalah Ketua DPD Golkar Kab. Kutim, Golkar di Kutim menjadi pemenang di perhelatan Pemilu Legislatif (pileg) di tahun 2014 yang lalu dan menempatkan Mahyunadi menjadi Ketua DPRD Kutim, sehingga relatif Kutai Timur di dominasi dengan suara Golkar, namun Isran Noor sebagai mantan Bupati Kutim dan menjadi cagub melalui perahu Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN), tentunya akan merubah dominasi Golkar di Kutai Timur untuk kontestasi pilgub Kaltim nantinya.

Selanjutnya, Kabupaten Paser di urut an kelima, sebanyak 179.370 pemilih (6,99 persen), dengan Bupati Yusriansyah Syarkawi dan Wakil Bupati Mardikansyah (Ketua Dewan Pertimbangan Golkar Paser). Golkar memenangi pileg 2014 lalu dan mendudukkan ketua DPD Golkar Paser Kaharuddin sebagai ketua DPRD. Dominasi ini membuat calon yang diusung Golkar akan memiliki suara terbesar di Kabupaten Paser.

Kabupaten Berau di urutan ke enam, sebanyak 155.732 pemilih (6,07 persen), Muharram dan Agus Tantomo resmi dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati periode 2016 hingga 2021. Saat terpilih, mereka di usung oleh PKS, PBB dan PAN. Muharram sebagai kader PKS pasti akan memaksimalkan perolehan suara Hadi Mulyadi (Anggota DPR RI) yang menjadi cawagub mendampingi Isran Noor.

Di lain sisi, Ketua DPD Golkar Kab. Berau Hadi Mustafa yang juga entrepreneur dan isterinya Syarifatul Syadi’ah, menjadi ketua DPRD Berau mewakil Golkar karena memenangi kompetisi pileg di 2014, dikomandoi oleh figur Makmur HAPK sebagai mantan Bupati Ber au dua periode dan kinerjanya yang dikenal langsung menyentuh masyarakat, membuat Golkar di Berau dapat memecah suara kontestasi pilgub, apalagi bila Makmur HAPK yang di usung Golkar, maka sudah dapat tergambarkan dengan jelas suara masyarakat Berau di pilgub.

Kabupaten Kutai Barat (Kubar) di urutan ke tujuh, sebanyak 125.290 pemilih (4,89 persen), bupati FX Yapan dan Wakil Bupati Edyanto Arkan. Kutai Barat milik PDIP dan itu dibuktikan melalui hasil pileg, pilbup dan Pilpres yang secara signifikan memberikan suara terbesar bagi PDIP. Adanya ketidaksepahaman antara Yapan dan mantan Bupati Thomas sebagai ketua PDPI Kubar merupakan titik celah bagi calon dari luar PDIP untuk memecah suara.

Kota Bontang di urutan ke delapan, sebanyak 124.519 pemilih (4,85 persen), Walikota Neni Moerniaeni dan Wakil Walikota Basri Rase. Dominasi kader Golkar sangat kuat, terbukti dua periode Sofyan Hasdam menjadi Walikota, dilanjutkan Adi Dharma (ketua MKGR Kaltim yang berafiliasi dengan G olkar) yang kemudian di gantikan lagi oleh Neni yang sekaligus menjadi Ketua DPD Golkar Bontang, walaupun saat Pilwali yang lalu Neni yang juga Isteri dari Sofyan Hasdam ini menggunakan jalur independen, namun kemenangan itu menunjukkan kekuatan Golkar menjadi mata rantai yang kuat.

Faktor wakil walikota Basri juga ikut signifikan bila Hanura menjatuhkan pilihannya pada cagub Golkar. Sofyan Hasdam dan Adi Darma dua tokoh Golkar inipun sedang mengikuti penjaringan cawagub dari partai Golkar, tentu saja suara masyarakat Bontang terfokus kepada kedua tokoh ini.

Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) di urutan ke sembilan, sebanyak 115.108 pemilih (4,48 persen). Bupati Yusran Aspar yang juga Ketua DPD Gerindra Kaltim dan Wakil Bupati Mustaqim MZ. Yusran memiliki survei yang cukup baik di kisaran 8 persen, sebelum menjadi Bupati, Yusran berhasil menjadi anggota DPR RI dengan perolehan 45.176 suara.

Asli kelahiran Gorogot, membuat Yusran sangat di kenal masyarakat Kabupa ten Paser, karena Secara sosio kultural masyarakat PPU sangat dekat dengan masyarakat Paser karena bagian yang tidak terpisahkan saat masih menjadi satu kabupaten, juga masyarakat PPU selalu berinteraksi aktif dengan masyarakat Balikpapan, disebabkan akses terdekat untuk tujuan berbelanja, wisata dan keluar daerah. inilah yang membuat Yusran juga populer di kalangan masyarakat Balikpapan.

Dari analisis ini bisa dipahami bahwa Yusran bisa menjadi kekuatan baru dan kuda hitam di pilgub Kaltim, karena di kenal luas di tiga daerah yakni Balikpapan, PPU dan Paser.

Menarik bila membicarakan Sosok ketua Gerindra Kaltim ini, ditengah popularitasnya semakin menanjak, soliditas kader Gerindra Kaltim yang semakin tercipta, warna-warni pencitraan Yusran di median jalan dan media online semakin menjadi pusat perhatian, tiba-tiba DPP Gerindra memutuskan untuk memberikan dukungannya kepada Isran Noor sebagai Cagub dan Hadi Mulyadi sebagai cawagub.

Tentu saja keputusan DPP Part ai Gerindra ini akan berpengaruh signifikan bagi kerja-kerja pemenangan kader Gerindra Kaltim, mereka bisa saja tidak mendukung pilihan pimpinannya di Pusat Kekuasaan.

Dan terakhir, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) sebanyak 21.385 pemilih (0,83 persen). Bupati Bonifasius Belawan Geh dan wakil Bupati Y Juan Jenau yang di usung PDIP dan merupakan kader PDIP.

Kondisi politik di Mahulu hampir sama dengan Kubar, yang tidak akan terpisahkan dengan PDIP. Suara ini akan bisa terpecah bila ada cagub yang berasal dari daerah Kutai Induk (Kukar, Kubar, Kutim dan Mahulu) misalnya Haji Syahrun yang sekarang menjabat Ketua DPRD Kaltim sebab selama ini haji alung sapaan akrab Syahrun selalu mengantongi suara terbesar saat pileg untuk wilayah pemilihan Kukar, Kubar dan Mahulu.

OTAK-ATIK PASANGAN

Bila di inventarisir, dari semua tokoh yang berpotensi dan berminat mengikuti pemilukada di Kaltim sebagai cagub dan cawagub maka dapat di bagi dalam beberapa kategori, yakni kelom pok partai politik, kelompok non partai politik dan kelompok pejabat birokrat/kepolisian.

Tokoh yang masuk Kategori kelompok partai politik, di urutan pertama yang paling banyak memunculkan kadernya adalah partai Golkar. Ada nama-nama Rita Widyasari, Makmur HAPK, Sofyan Hasdam, Mahyudin, Adi Darma, Ghufron Yusuf, Ahmad Djaelani dan terakhir dimunculkan dewan pertimbangan Golkar Kaltim adalah HM. Syahrun.

Urutan kedua yang paling banyak menampilkan kadernya adalah PDIP yakni Awang Ferdian Hidayat, Emir Moeis, Siswadi dan terakhir Djarot Saiful Hidayat selaku pelaksana tugas PDIP Kaltim.

Partai Nasdem di urutan terbesar ketiga dengan menampilkan dua tokoh yakni Harbiasnyah dan Nusyirwan Ismail. Sedangkan di urutan terakhir, dengan menampilkan satu-satunya tokoh central adalah Syaharie Jaang dari Demokrat, Hadi Mulyadi dari PKS, Yusran Aspar dari Gerindra dan Mudyat Noor dari Hanura.

Kategori kelompok non partai politik adalah Farid Wadjdy, Isran Noor, dan R izal Effendi.

Kategori kelompok pejabat birokrat/pejabat kepolisian adalah Rusmadi Wongso sekretaris Provinsi Kaltim dan Safarudin Kapolda Kaltim.

Sampai mendekati beberapa hari lagi waktu pendaftaran cagub dan cawagub di KPU Kaltim, belum ada satupun pasangan yang melakukan launching atau deklarasi bersama-sama dengan partai politik pengusungnya.

Namun, jika melihat berbagai statment ketua partai politik dan opini serta data dari media massa di Kaltim maka akan dapat di simulasikan beberapa rekayasa koalisi, yakni Gerindra , PKS dan PAN dengan total 14 kursi, akan mengusung pasangan Isran Noor sebagai Cagub dan Hadi Mulyadi sebagai cawagub, ini dapat dipastikan dengan terbitnya Surat Rekomendasi dari DPP Partai Gerinda kepada mereka berdua, disini tampak sekali Gerindra dan PAN merelakan kadernya untuk tidak ikut meramaikan pilgub karena digantikan oleh Isran Noor.

Rekayasa koalisi yang kedua adalah pasangan Syaharie Jaang sebagai cagub dan Rizal Effendi sebagai cawagub dengan partai pengusung Demokrat, PKB dan PPP. Total kursi ketiga partai adalah sebanyak 12 kursi di DPRD Kaltim. Demokrat dan PKB secara terang benderang menyatakan dukungannya, namun PPP masih belum memastikan secara konkret.

Rekayasa Koalisi ketiga adalah Golkar, PDIP, Nasdem dan Hanura dengan 29 kursi di DPRD Kaltim. Bila koalisi ini terjadi maka dari Golkar akan muncul nama Makmur atau Sofyan Hasdam, sedangkan dari PDIP akan muncul nama Awang Ferdian Hidayat atau Safarudin. Bila Golkar keluar dari koalisi ini maka pasangan koalisi ini akan memunculkan pasangan Safarudin dan Awang Ferdian Hidayat atau Safarudin dan Farid Wadjdy/Nusyirwan Ismail atau Rusmadi Wongso dan Awang Ferdian Hidayat.

Jika Golkar tidak berkoalisi dengan PDIP maka akan memunculkan nama pasangan calon Makmur dan Sofyan Hasdam atau Makmur dan Rusmadi Wongso atau Sofyan Hasdam dan Rusmadi Wongso atau H Syahrum dan Makmur/Sofyan Hasdam/Rusmadi Wongso.

Sesuai dengan rekayasa koalisi partai politik di atas, maka dapat dipastikan memunculkan tiga sampai empat pasangan cagub dan cawagub Kaltim yang akan bertarung di tahun 2018.

Pilgub di Kaltim akan semakin dinamis mendekati batas waktu pendaftaran cagub dan cawagub di KPU Kaltim, titik krusial terletak pada Partai Golkar dan PDIP.

Golkar Kaltim dalam waktu dekat akan menyelenggarakan Musdalub untuk memilih ketua Golkar Kaltim definitif dan Rapimdasus untuk menentukan cagub dan cawagub.

Sedangkan PDIP masih menunggu keputusan DPP PDIP terkait cagub dan cawagub, akankah harmonisasi Golkar dan PDIP yang tercermin dari kehadiran Joko Widodo dan Megawati pada acara Munaslub Partai Golkar yang mendefinitifkan Airlangga Hartato sebagai Ketua Umum Partai Golkar berlanjut di pemilukada Kaltim dengan terwujudnya sebuah pasangan cagub dan cawagub.

Bagaimana menurut Anda ?

komentar

Sumber: Google News | Berita 24 Kaltim

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »